Bagai ayam (yang) mati di lumbung padi…

Memang suatu hal yang menarik untuk tinggal di kota kecil seperti ini. Sekecil apapun isu yang beredar, pasti seisi kota sudah heboh tak karuan. Mulai dari launching ”Mall” baru yang gedungnya begitu cepat dibangun, sehingga orang-orang berisu ”Jangan ke Ramayana, nanti gedungnya roboh…”, hingga isu BBM naik awal tahun depan, yang menyebabkan seluruh penduduk Bontang jadi heboh, panik, dan bisa ditebak, pada ngantri untuk alasan yang tidak jelas di SPBU.

Untuk isu terakhir itu, diperburuk dengan adanya kerusakan teknis pada kilang Pertamina Balikpapan, sehingga distribusi BBM terganggu, yang buntutnya terjadilah kelangkaan BBM, mulai dari Samarinda, Balikpapan, dan akhirnya berimbas ke Bontang – kota kecil nan gampang digoncang isu ini.

Sudah sejak hari senin minggu lalu (10/Des/2007), BBM khususnya bensin, solar dan pertamax mulai langka di Bontang. Waktu itu saya memang sengaja meminta suami saya mengisi tangki mobil saya sampai penuh meskipun tangki belum mendekati Empty, dengan alasan saya memang males untuk beli bensin di SPBU. Alhamdulillah, tanpa ngantri terlalu lama, dapatlah mobil saya minum sampai penuh.

Nah, hari Sabtu kemarin (15/Des/2007), mulailah isu harga BBM naik itu memuncak. Dan bisa ditebak, semua orang di Bontang jadi panik dan berbondong-bondong ngantri di SPBU yang hanya ada 3 biji di kota ini. Padahal BBM di SPBU tersebut sementara habis. Jadilah mobil dan motor berjejer sampai ratusan meter, hanya untuk ngantri BBM yang belum tersedia di SPBU. Sebagian besar mobil yang parkir disitu malah ditinggal pulang oleh pemiliknya – alias parkir dipinggir jalan untuk mendapatkan BBM.

Saya beruntung, mobil masih ada isinya setengah penuh lebih. Jadi saya tidak perlu lagi ikut-ikut antri. Beberapa teman sekantor cerita bahkan sampai harus nelpon berkali-kali ke SPBU dan ngantri jam 2 malam untuk bisa membeli BBM.

Hmmm…ironis memang. Anak-anak SD yang tiap hari belajar bahwa Indonesia kaya akan migas dan juga orang awam pasti berpikir, ”Bukankah Kaltim adalah penghasil migas terbesar di Indonesia?”.

Jawabannya adalah, ”Yak…memang pertanyaan itu jawabannya adalah, Benar…Kaltim adalah penghasil migas terbesar di Indonesia.”

Tapi yang orang awam tidak tahu adalah, ”Kemana kah larinya migas yang dieksplorasi di bumi Indonesia ini?”

Nah..sejauh yang saya tahu, migas yang dieksplorasi oleh KPS-KPS asing yang beroperasi di beberapa ladang migas di Indonesia, akan dijual ke pasar internasional. Negara hanya akan menerima bagi hasil penjualan – setelah dikurangi biaya operasional tentunya – (yang ditengarai sering dibuat ”bengkak” oleh para KPS untuk mengeruk untung yg lebih besar). Makanya jika kita bertanya-tanya, ”Harga minyak dunia naik, negara penghasil migas seperti kita kok malah kebingungan?”, maka jawabannya adalah, Negara kita ”mungkin” untung, tapi lebih banyak buntungnya. Kenapa? Karena BBM yang kita konsumsi dibeli oleh pemerintah dari pasar internasional, bukan dari hasil eksplorasi KPS. Jadi, setiap kali ada kenaikan harga minyak mentah, maka bisa ditebak siapakah yang paling untung dan siapa yang buntung…

Nah…jadi terjawab sudah mengapa jika harga minyak dunia melambung, maka pemerintah akan langsung kalang-kabut dan bingung bagaimana caranya menstabilkan harga BBM yang dijual ke masyarakat, tanpa harus menambah subsidi. ”Ya itu dia, karena negara kita masih mengimpor minyak yang kita gunakan”.

Pertanyaan terakhir…”Mengapa kita harus mengimpor minyak, mengapa tidak mengkonsumsi dari produksi sendiri saja?”

Nah…pertanyaan ini yang saya tidak punya jawabannya, tapi fakta yang saya ketahui, bahwa minyak mentah kita mempunyai kualitas tinggi, yang mungkin beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa lebih menguntungkan untuk menjualnya, daripada untuk konsumsi sendiri.

Jadilah yang terjadi sekarang, kita seperti ayam mati di lumbung padi.

Hmmm….sepertinya masalah ini masih akan jadi PR buat pemerintah kita. Saya – yang Cuma rakyat biasa – memang hanya bisa melihat, merasakan, dan komentar terhadap semua kebijakan pemerintah. Kita doakan saja bersama, semoga nantinya pemerintah kita bisa menerapkan kebijakan yang lebih merakyat. Dan khususnya BBM di Bontang tidak langka lagi😀

2 Responses

  1. komen nyeleneh : untuk aku cuma bermodalkan pancal, jadi gak perlu minum… cuma yang ngengkol yang perlu minum😀

    komen serius : percuma berharap sama pemerintah😀 , sampai kapan pun Indonesia masih tetap akan kebingungan klo harga minyak mentah dunia naek. aku sendiri udah 98% hopeless ama pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah2 yang ada🙂

  2. @nra
    Kl disini naik sepeda sih asik aja…tp medannya itu loh yg gak kuat..mendaki gunung..lewati lembah (awas ada buaya lewat…heheheh…) lgian rumah kekantor 10km😦
    Berdoa aja moga2 nanti anak cucu kita bisa menemukan bahan bakar yg ramah lingkungan dan non-bbm😀 (denger2 sih org kita ud ada yg nemuin bahan bakar pake air)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: