Not a doctor wanna be

Hari ini, seperti biasa pas jam istirahat saya selalu pergi ke rumah sakit. Eits…jangan salah dulu…bukannya saya sakit ato ingin berobat, tetapi tiap hari kerja waktu jam istirahat saya memang makan siang di kantin di rumah sakit.

Tetapi yang bikin tidak biasa pada hari ini adalah, sebelum makan saya berkunjung dulu ke UGD. Bukannya saya sakit, tapi untuk melihat keadaan teman sekantor saya yang tertimpa musibah kecelakaan. Meskipun sebenarnya takut (saya paling fobia melihat korban kecelakaan), tapi saya kuatkan untuk menjenguk ke UGD bersama beberapa rekan sekantor. Alhamdulillah kondisi luarnya tidak terlihat luka berat, meskipun ada patah tulang. Waktu itu dia sedang dijahit. Waduh….saya langsung ngliyeng melihatnya…(untungnya nggak pingsan).

Hal itu mengingatkan saya akan jawaban yang pasti, mengapa dulu saya tidak mewujudkan cita-cita menjadi dokter saja? Dulu memang saya pernah bercita-cita menjadi dokter, biasalah cita-cita anak kecil. Tapi waktu menginjak SMA, orang tua saya juga sangat mendukung saya untuk mengambil pendidikan kedokteran nantinya selepas SMA.

Tetapi saya – yang sejak kelas 1 SMA sudah jatuh cinta dengan Teknik Informatika, merasa bahwa panggilan hati saya ada di Informatika, bukan kedokteran. Meskipun menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia dan bisa dibilang prestisius dan bergengsi. Mama saya pernah bilang, ”Cewek kok kuliahnya teknik sih, lebih pantas jadi dokter kan?”. Tapi saya bergeming, dan akhirnya tetap pada jalur ini hingga sekarang, Alhamdulillah.

Namun, kejadian siang ini mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa saya tidak jadi memilih untuk kuliah kedokteran dan menjadi dokter?

Mengapa?

Jawabannya adalah :

  1. Saya paling tidak tahan melihat orang sakit, apalagi korban kecelakaan, apalagi melihat darah (bisa pucat dan semaput saya).
  2. Saya tidak telaten merawat orang sakit, bukan karena apa-apa tapi karena saya takut nanti justru salah langkah dan membuat yang sakit malah jadi lebih sakit😀
  3. Dan yang pasti adalah, kalau saya masuk kedokteran, gimana caranya saya bertemu dengan belahan hati saya? (Yang satu ini adalah hak prerogatif Yang Maha Kuasa, mungkin saja kalau saya kuliah kedokteran, maka suami saya adalah kakak kelas saya juga di FK heheheh…Wallahua’lam)

Yang jelas, jadi apapun saya, insyaallah tujuannya adalah menjadi orang yang berguna untuk kebaikan. Simple saja, meski berat untuk dilaksanakan. Tp yg penting berusaha, ya kan?

 
PS: Semoga, rekan saya tersebut cepat sembuh, Amien. Dan bagi rekan yang lain, mohon berhati-hati dalam berkendara,  dan jangan lupa berdoa, semoga kita selalu diberi keselamatan, Amien.

4 Responses

  1. Hehehe, baca poin ketiga, jadi inget dulu waktu dede’ nyanyi di asrama pakai gitar waktu format 2002. Akulah aaaa… gunnaaaaaa….. yang mencari liaaaa….

    saya juga bersyukur dulu nggak jadi masuk kedokteran. nggak bisa membayangkan bagaimana stresnya mempelajari buku-buku tebal itu🙂

  2. liat point no 1, bu ulliee ntar jangan semaput yah waktu ngelahirin keponakan kita2😀
    liat point no 2, klo udah punya baby harus bisa neh ngerawatnya🙂

    btw, bakalan nambah keluarga besar tc02… ada banyak keponakan neh🙂 .

    @ galih : wkakaka… a’a galih mulai bernostagila dengan kenangan lama🙂 . jadi inget juga kenangan itu😀

  3. @galih
    Huahahaha…masak sih pd nyanyi gt? aku baru denger skrg tuh… (iya…jd inget suka duka format di asrama…kyny seru bgt…hmmm…miss you all my friends…)
    tp Lih, kedokteran kan byk cewek imutnya….😀 )

    @nra
    sip deh, tenang aja…insyaallah utk yg satu itu lg dipersiapkan dr skrg…😉
    (kl g salah taun depan insyaallah nambah 4 ponakan…ada yg mau nambahin lagi? hehehehe….)

  4. Wah, sepertinya Mbak lebih beruntung tuch bisa memilih hal yang telah menjadi cita2 sejak lama…
    ^_-
    Jadi ingat, waktu Saia pindah jurusan dari teknik sipil ke kedokteran, waktu itu tidak sedikitpun terbelesit di pikiran saia klo kul di kedokteran itu menyenangkan….
    *kuliah klasik yang sangat membosankan*

    Tpi, begitu saia menjalaninya
    esp. saat PBL di RSDS dan beriteraksi secara langsung
    dengan pasien, merepakan ilmu yang kita dapatkan di kampus, dan ketika melihat pasien yang kita tangani merasa lebih baik,dan perasaan dibutuhkan adalah hal terindah yang pernah saya rasakan…

    Hal yang saya dapatkan ketika saya kuliah di kedokteran adalah saya tidak pernah merasa sendirian hidup di dunia ini. *meski gk ada waktu buat PDKT atau Ngedate ma cowok*
    hehehehehe ^_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: