An Inspiring Smile

Sudah lama saya ingin menuliskan cerita ini, hingga baru sekarang saya bisa menuangkannya dalam tulisan.

Saya ingin memulainya dari hari saya yang agak messy hari ini, apa lagi yang menyebabkan selain kerjaan?? Ya begitulah, seharian sampai waktu istirahat makan, rasanya kerjaan saya nggak beres-beres (alhamdulillah si adek pengertian dan nggak ngambek, dengan tenang ia bergerak-gerak dengan lembut dalam perut saya). Alhamdulillah mendekati jam istirahat makan, kerjaan sudah selesai, eits…tapi belum tuntas…masih ada kerjaan lain menunggu untuk diselesaikan. Tak mau menunda makan siang, akhirnya jam 12 siang sayapun keluar kantor untuk cari makan siang naik mobil, tentunya dengan hati dan muka yang agak bete.

Seperti biasa, tiap melewati gerbang kantor, ada seorang security yang stand by disana. Dan seperti biasa, saya lewat begitu saja, pak Security yang berdiri berteduh disamping pos itu sepertinya juga cuek-cuek saja. Saya pun meneruskan perjalanan. Sampai di depan persimpangan hotel Equator, ada pos security lagi. Dan lagi-lagi, saya bertemu dengan Bapak Security itu (bukan yang saya temui didepan gerbang kantor tadi, sayang saya nggak tau namanya). Di tengah sengatan matahari yang sedang terik-teriknya, bapak security itu berdiri di tengah jalan dan melambaikan tangan hormat kepada setiap mobil yang lewat tak lupa senyumnya yang sumringah itu memperlihatkan beberapa gigi yang ompong karena sudah tua, tapi tetap menunjukkan ketulusan yang dalam. Saya pun membalas dengan mengangkat tangan dan tersenyum padanya.

Dalam hati saya bertanya-tanya, ”Ngapain bapak ini kok panas-panas mau-maunya berdiri di tengah jalan, hormat ama setiap mobil yang lewat, dan tersenyum penuh simpati?”.

Lalu kemudian saya bertanya lagi dalam hati ”Bukannya dia nggak harus ngasih hormat sama setiap mobil yang lewat dan tersenyum gitu, itu kan nggak masuk jobdesc nya?”.

Lebih jauh lagi saya bertanya ”Berapa sih gajinya bapak itu sampai dia mau panas-panasan gitu?”.

Lalu saya tersadar, dan saya jadi malu pada diri sendiri, ”Astaghfirullah, kenapa saya berpikir begitu ya?”.

Sekarang bapak security itu saja yang mungkin Cuma digaji seadanya untuk tugas yang nggak enak (menurut saya) karena harus berpanas-panasan, kadang kehujanan, kadang harus tugas malam, dia nggak kelihatan bete sekalipun. (saya sudah sering berjumpa dengan beliau, dan setiap saya atau pas suami saya yang menyetir, atau saya yakin siapapun yang lewat, bapak security itu selalu melayangkan hormat dengan senyumnya yang tulus).

Saya jadi malu sendiri. Saya, yang kerjanya Cuma sambil duduk (meskipun pikiran sambil diperes sampai sering pusing tujuh keliling), tapi saya bisa bekerja dengan nyaman dan aman. Duduk di ruang ber AC, kadang-kadang sambil makan kue-kue kesukaan, dan yang pasti digaji lebih dari cukup dengan segala fasilitasnya yang lengkap. Sudah senyaman itu saja, saya masih sering bete kalau menghadapi masalah, kerjaan yang belum beres dan menumpuk, atau sekedar bete karena kantor yang suasananya mendadak ribut gara-gara ada yang nyetel musik kenceng2.

Akhirnya…alhamdulillah…senyum yang tulus dari pak security itu, mampu menyelamatkan hari saya yang waktu itu lagi ”bad day”. Saya malu, seharusnya saya lebih banyak bersyukur dan lebih banyak lagi belajar bersabar dalam menghadapi semua masalah baik dalam hidup atau pekerjaan saya.

Dalam hati saya berdoa, ”Pak Security, semoga Allah memberimu banyak rejeki dan pahala, karena dengan tulus dan senang hati melaksanakan tugas, serta memberikan senyuman yang tulus bagi setiap orang yang lewat”.

Memang benar, salah satu sedekah adalah memberikan senyuman untuk siapa saja. Semoga saja, saya juga mampu bertindak yang sama. Ternyata mudah saja ya mencari pahala, senyum aja bisa dapat pahala. Subhanallah…🙂

2 Responses

  1. iya senyum adalah semurah-murahnya sedekah yang dapat kita berikan. Bapak itu udah memberikan sedekahnya kepada setiap orang yang melewatinya🙂 . salut buat bapak security… seandainya sedekah itu bisa dikonversi dengan uang… pasti bapak security udah kaya raya yah…🙂

  2. @nra
    itulah…kadang2 kita gak bisa menilai “kekayaan” seseorang dari materi aja ya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: