“Gedong” vs Kampung di Pinggiran Belitong

Saya memang belum membaca novel Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata, hingga selesai. Mungkin baru beberapa bab awal saja, tepatnya bab yang menceritakan bagaimana kehidupan kaum yang tinggal di “Gedong” dan dibandingkan dengan rakyat “jelata” yang tinggal di kampung-kampung.

“Gedong” pada novel ini, kurang lebih jika diceritakan, adalah sebuah community development yang dibangun oleh sebuah perusahaan timah yang sangat makmur pada jaman itu, yaitu PN Timah (mungkin sekelas Freeport di Timika, atau PT. Badak dan PKT di Bontang, dll).

Sedangkan rakyat jelata yang tinggal di sekitarnya adalah penduduk asli daerah yang disebut Belitong itu (mungkin bisa diibaratkan suku-suku asli Papua yang tinggal disekitar Timika dan daerah sekitar Freeport. Di Bontang, tidak ada suku asli karena semua yang datang adalah pendatang dari luar seperti Jawa dan Sulawesi). Penduduk asli ini, yang notabene hidup menggantungkan diri pada industri besar yang berdiri di atas bumi mereka, tentu saja hidup serba mepet. Jika ada yang sedikit beruntung, mungkin bisa mendapat posisi lumayan sebagai mandor yang bekerja di perusahaan besar tersebut. Hal ini terjadi karena penduduk asli tidak memiliki kemampuan yang cukup (karena tidak memiliki kesempatan, seperti orang-orang pendatang)

Secara pengalaman pribadi, saya memang mungkin belum pernah mengalami menjadi salah satu dari dua sisi antara menjadi anak “Gedong” ataupun masyarakat yang tinggal di luarnya. Tetapi kiranya ”protes” yang dilayangkan oleh Andrea dalam bukunya tersebut perlu dicermati. Bagaimana seorang anak menjadi kebingungan, bahwa dia dan ayah ibunya, kakek neneknya, yang dari ratusan tahun yang lalu menjejak tanah yang didiaminya, justru tak dapat menikmati apa yang dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di ”Gedong”. Semuanya selalu terpaku pada dinding tebal nan tinggi yang memisahkan Gedong dan luarnya.

Andrea menulis dengan gaya kebingungan seorang anak yang berpikir kritis, mencoba memprotes. Saat sekolah anak-anak PN begitu megah dan lengkap, bahkan digambarkan ia sampai pusing menghitung jumlah guru yang ada didalamnya. Sementara di sekolah mereka yang serba seadanya, hanya ada satu guru untuk kelas mereka yang ruangannya begitu reyot dan hanya bertabur sebuah poster pendiri Muhammadiyah dan Rhoma Irama.

Namun akhir kisah itulah yang patut menjadi teladan bagi kita dan anak-anak kita. Bagaimana seorang anak yang lahir di tengah-tengah kemiskinan dan kesederhanaan, bisa berhasil meraih cita-cita hidupnya. Mungkin saya memang tidak pernah mengalami cobaan seberat itu dalam menempuh pendidikan dan kehidupan semasa saya kecil hingga sekarang (meskipun masa kecil saya juga tidak bergelimang kemewahan). Tetapi kisah ini seharusnya menjadi tamparan yang keras buat kita yang selama ini bergelimang segala fasilitas yang lengkap. Sudah seharusnya kita menengok kawan-kawan kita yang mungkin lebih tidak beruntung daripada kita, tetapi berhasil meraih prestasi yang sama atau bahkan lebih dari pada kita. Anak yang tumbuh dengan segala fasilitas dan kemewahan dalam hal pendidikan, hiburan dan fasilitas lain memang sudah seharusnya menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya kelak, karena ia tak perlu lagi berpikir ”akan makan apa aku sore nanti?”, ”siapa yang akan membayar uang sekolahku?”, atau ”siapa yang akan melunasi uang bukuku nanti?”. Tetapi bagi anak-anak yang kurang beruntung, yang harus bergulat dengan kerasnya kehidupan serta berjuang lebih keras lagi untuk mencapai pendidikan yang layak, jika mereka suatu saat berhasil, itu karena mereka telah kuat ditempa oleh berbagai cobaan, yang dimana beberapa anak yang kenyang dengan fasilitas menjadi terbuai dan manja yang akhirnya melempem dan suram masa depannya.

Saya bukannya anti dengan anak-anak yang mempunyai latar belakang keluarga yang serba berlebih. Tetapi paling tidak, saat kita berada di atas, kita janganlah pernah lupa menengok ke bawah, dan merasa terpecut untuk selalu berusaha semampu kita. Jangan pernah lupa, di saat kita merasa lebih beruntung dan selalu bersyukur dari saudara kita yang lain, maka saat itu pula kita harus berjanji untuk selalu berbuat yang terbaik, serta berusaha sebaik mungkin untuk menolong mereka yang kurang beruntung.

PS: ini hanya sekedar uneg-uneg, saya juga belum tentu bisa menjalankan hal yang saya tulis di atas tersebut. Tetapi paling tidak, kita selalu menyadari kekurangan kita dan mau memperbaikinya.

One Response

  1. Kmu org bltg bkn? aku asli anak belitung..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: